Rabu, 21 Mei 2008

Masalah Kesehatan: Stroke Pembunuh Nomor Tiga

Pembunuh Nomor Tiga itu Bernama Stroke

JAKARTA - LIFE begin at forty, hidup dimulai di usia 40. Sebab di usia kepala empat inilah seseorang tengah berada di puncak karir. Di usia ini pula seseorang tengah menikmati apa yang menjadi perjuangannya sejak usia 20 hingga 30-an. Sayangnya, di usia ini pula, penyakit stroke mencari mangsa.

“Banyak dijumpai kasus stroke menyerang orang usia 40-an, di mana seseorang sedang dalam masa produktif. Alangkah tragis bila di usia muda ini harus hidup di atas kursi roda atau berbaring di tempat tidur hanya karena penanganan stroke yang terlambat,” ujar Patricia M. Widjaya, Sp, kepala Bagian Radiologi di Rumah Sakit Husada, Jakarta.

Stroke adalah serangan mendadak pada otak akibat pembuluh otak tersumbat atau pecah. Biasanya kondisi ini akan diikuti dengan gejala seperti nyeri kepala hebat, penurunan kesadaran dan kejang mendadak. Juga terjadi gangguan daya ingat, keseimbangan dan gangguan orientasi tempat, waktu dan orang.

Jenis stroke sendiri ada dua macam, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Pada stroke iskemik terjadi proses arteriosklerosis atau darah terlalu kental yang membuat pembuluh darah otak tersumbat. Sumbatan ini terjadi akibat lepasnya bekuan yang berasal dari lokasi lain. Sedangkan stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah akibat dinding pembuluh rapuh atau anomali-anomali bawaan pada usia muda.

Menurut Patricia, pasien stroke iskemik kerap terlambat ditangani akibat masyarakat kurang memahami bahaya stroke. “Umumnya, jika seorang anggota keluarga terserang stroke iskemik, tidak langsung dibawa ke rumah sakit. Mereka hanya membaringkan penderita saja. Kalau dilihat kondisi membaik maka dianggap kesehatannya sudah pulih,” ungkap Patricia.

Padahal stroke iskemik bisa dipulihkan kalau ditangani dengan cepat, tidak lebih dari tiga jam setelah serangan terjadi. Penanganan awal yang paling menentukan adalah dengan cara deteksi.

Teknik Deteksi
Ada dua jenis teknik pemeriksaan imaging untuk mengevaluasi kasus stroke atau Cerebrovascular Disease (CVD), yaitu CT scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). CT scan diketahui sebagai pendeteksi imaging yang paling mudah, cepat dan relatif murah untuk kasus stroke. Namun dalam beberapa hal, CT scan kurang sensitif dibanding dengan MRI, misalnya pada kasus stroke hiperakut.

Patricia berpendapat jika pasien stroke iskemik ditangani dengan cepat dan tepat menggunakan paket pemeriksaan CT scan dan MRI maka stroke yang berkelanjutan bisa pulih kembali.

Lebih jauh Patricia menjelaskan langkah pemeriksaan CT scan terhadap otak polos, potongan aksial dari basis crani sampai vertex. Bila ada tanda-tanda stroke hemoragik maka pemeriksaan selesai sampai di tahap ini. Namun kalau CT scan normal atau tidak ada tanda-tanda akut infark maka pemeriksaan dilanjutkan dengan MRI.

RS. Husada menyediakan sarana MRI dengan tesla tinggi, yaitu 1,5 tesla. MRI adalah suatu alat diagnostik gambar berteknologi canggih yang menggunakan medan magnet, frekuensi radio tertentu dan seperangkat komputer untuk menghasilkan gambar irisan penampang tubuh manusia.

Dengan ukuran tesla yang lebih tinggi maka akan dihasilkan gambar lebih tajam. Kemampuan membuat irisan penampang sangat tipis, yaitu 1-2 milimeter, sehingga detil struktur jaringan tulang rawan terlihat lebih jelas.

Selain mendeteksi stroke, MRI juga bisa mendeteksi kelainan jaringan di leher, tumor, infeksis atau abses, proses degenerasi, trauma, kelainan bawaan dan sumbatan pembuluh darah. Pemeriksaan stroke dengan MRI ini, menurut Patricia, hanya tepat bagi stroke akut yang kurang dari tiga jam, adanya defisit neurologi yang nyata dan terjadi trombosit.

Terapi
Setelah menjalani deteksi teknis, pasien stroke harus menjalani perawatan umum. Menurut Prof. DR. Dr. SM.Lumbantobing, SpS (K), ahli penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), perawatan umum sangat diperlukan apabila kesadaran pasien menurun. Biasanya perawatan ini dilakukan setelah diadakan pemeriksaan penunjang rutin, mencakup hemoglabin, hematokrit, eritrosit, lekosi, masa pendarahan serta pembekuan, dan seterusnya.

Pada tahap perawatan umum harus diperhatikan jalan nafas pasien. Jika jalan nafas tersumbat maka lendir harus disedot untuk mencegah kekurangan oksigen. Masuknya cairan, kalori dan elektrolit juga harus dipantau dengan baik. Di samping itu harus dicegah terjadinya peningkatan suhu dengan cara pemberian obat anti piretik atau kompres.
“Peranan terapi anti-hipertensi pada fase akut stroke masih kontraversial di antara ahli medis. Ada dugaan bahwa menurunkan tekanan sistemik dapat memperburuk aliran darah selebral yang mengakibatkan kerusakan iskemik,” jelas Lumbantobing. Mengobati tekanan darah umumnya dilakukan bila tekanan diastole melebihi 140 mm Hg atau tekanan sistole melebihi 220 mm Hg. Ada pula pakar yang mengambil standar batas lain, yaitu tekanan astole lebih besar dari 220 mm Hg.

Umumnya tekanan darah meningkat pada fase akut stroke. Peningkatan tekanan darah ini dapat disebabkan oleh stres, rasa nyeri, kandung kencing yang penuh dan tekanan intrakranial yang meninggi. Bila iskemia didapati cukup berat maka sebagian sel saraf otak mati atau sekarat. Saraf yang mati ini tidak dapat ditolong. Yang bisa dilakukan tim medis adalah berusaha agar saraf yang sekarat jangan sampai mati. Saat inilah dibutuhkan suatu terapi khusus bagi pasien.

Pembunuh Nomor Tiga
Lumbantobing berpendapat bahwa banyak masyarakat awam yang tidak menyadari bahwa stroke sangat berbahaya. Informasi ini sering tidak didapat oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Yang perlu diketahui adalah sesungguhnya stroke merupakan keadaan gawat darurat. Stroke membutuhkan penanganan segera, sama halnya dengan jantung. Jika pada jantung disebut serangan jantung, maka stroke bisa disebut sebagai serangan otak.
Jumlah penderita stroke di Indonesia kian meningkat dari tahun ke tahun. Jangan disepelekan, sebab penyakit ini sudah menjadi pembunuh nomor tiga di Indonesia setelah penyakit infeksi dan jantung koroner. Sekitar 28,5 persen penderita penyakit stroke di Indonesia meninggal dunia.

Di Eropa, stroke merupakan penyakit berbahaya kedua setelah penyakit jantung koroner. Di antara 100 pasien rumah sakit, sedikitnya dua orang merupakan penderita stroke. Jika tidak ditangani dengan segera maka penderita stroke bisa berakhir dengan kematian atau kecacatan, yakni lumpuh dimensial atau pikun dan gangguan lain seperti sulit bicara dan melakukan kegiatan lainnya.

Untuk mencegah “the silent killer” ini maka seseorang dianjurkan untuk mengurangi rokok, melakukan olah raga teratur, membatasi minuman beralkohol, dan menghindari stres berlebihan. Mereka yang berpotensi tinggi terkena stroke adalah penderita hipertensi, kencing manis, pecandu rokok dan alkohol, serta penderita stres berat.(mer)

sumber www.sinarharapan.co.id

Masalah Kesehatan: Stroke Pendarahan Otak

Rabu, 24 May 2006
Bahaya Stroke Perdarahan Otak

Dr. Handrawan Nadesul, Dokter umum

Stroke perdarahan otal lebih fatal akibatnya dibanding stroke bukan perdarahan otak. Lebih sering menyerang pria daripada wanita. Mungkin langsung sudah tidak dapat tertolong kendati tindakan medis segera dikerjakan. Adakah penduga kuat, siapa dan kapan stroke perdarahan menimpa seseorang? Kita bicarakan di sini.

Pak Nus, mendadak terjatuh lalu pingsan sewaktu berpidato di mimbar. Baru ketahuan kalau tungkai kanannya lumpuh setelah ia mulai siuman. Ia tak kuasa mengangkat tungkai kanannya. Kesadarannya tampak belum pulih benar, dan seperti mau tidur terus. Dokter yang memeriksa menduga Pak Nus, mengalami stroke perdarahan.

Benar, begitu gambaran hasil CT-Scan yang langsung dilakukan setiba Pak Nus, di rumah sakit. Ada bekuan darah sebesar bola bekel bersarang di bagian tengah otaknya, menekan belahan otak kiri. Hasil pengambilan cairan otak yang menyusul dilakukan, sudah penuh darah.

Setelah itu kesadaran Pak Nus, terus memburuk. Tak ada respon yang timbul sewaktu diajak bicara dan dicubit. Dia nyaris koma.

Untuk kasus seperti itu tak banyak bisa dikerjakan lagi. Pak Nus mengalami perdarahan di daerah thalamus otaknya. Ini daerah vital di bagian tengah otak. CT-Scan yang kedua kali menunjukkan bekuan darah yang sudah lebih membesar, tanda proses perdarahan masih terus berlangsung. Belum sehari, seperti dugaan dokter yang memeriksanya, Pak Nus, memang tak mungkin bisa tertolong lagi.

Kapan terjadi
Kita mengenal ada dua jenis stroke. Stroke sebab sumbatan pembuluh darah otak atau stroke iskemik, dan stroke yang terjadi sebab pecahnya pembuluh darah di dalam otak. Dua-duanya merusak sel dan bangunan di dalam otak.

Tergantung pada cabang pembuluh darah otak pemasok makanan ke bagian otak mana yang mengalami penyumbatan, kita mengenal gejala dan tanda stroke lebih sepuluh ragamnya. Stroke bukan hanya tampil dengan gejala kelumpuhan belaka seperti dikira banyak orang.

Analog dengan peta bumi demikian kondisi pemetaan fungsi otak kita. Wilayah otak provinsi tentu lebih vital dibanding wilayah otak yang setingkat kabupaten atua kecamatan. Tak lebih vital tentu wilayah desa.

Penyumbatan pembuluh darah otak yang terjadi di wilayah provinsi akan lebih nyata dan berat gejala, serta kecacatan yang disisakannya. Gangguan aliran darah yang terjadi di wilayah kecamatan atau desa, mungkin belum memperlihatkan gejala stroke apa pun (silent stroke). Stroke begini baru ketahuan kalau dilakukan CT-Scan.

Ada kelemahan dan kerentanan tersendiri untuk pembuluh-pembuluh darah otak tertentu dan percabangannya untuk beresiko tersumbat, atau disumbat baik oleh bekuan darah kiriman (dari jantung atau pembuluh darah besar di batang leher), maupun oleh penyempitan pipa pembuluh darah otak sendiri akibat menebalnya "karat" lemak (ateroklerosis). Di wilayah pembuluh darah yang seperti itu sumbatan pembuluh sering terjadi. Gejala stroke iskemik yang muncul ditentukan oleh bagian mana fungsi otak yang terganggu sesuai dengan wilayah kerusakannya.

Begitu juga kerentanan pembuluh-pembuluh darah otak bagian tertentu di dalam otak yang mudah menjadi rapuh, dan kemudian rentan pecah. Pada bagian otak yang dipasok pembuluh darah itulah yang sering mengalami perdarahan.

Kita mengenal ada empat wilayah otak yang pembuluh darahnya sering pecah, sehingga menimbulkan stroke perdarahan. Keempat wilayah itu adalah pembuluh darah di bagian otak putamen, thalamik, pontin dan otak kecil.

Karakteristik pembuluh darah yang rentan pecah itu khas. Biasanya pada bagian pembuluh darah yang menyabang (bifurcatio) yang kerap terjadi perdarahan. Mungkin karena di situ arus darah itu yang berpotensi merusak dinding bagian dalam pembuluh darahnya. Keadaan demikian lazim terjadi pada orang yang pembuluh darahnya sudah dibombardir oleh tekanan darah yang meninggi untuk waktu yang lama.

Pada pengidap darah tinggi yang menahun, pipa pembuluh darah seluruh tubuhnya sudah menjadi abnormal. Termasuk pembuluh darah di otaknya. Lapisan yang membentuk pipa pembuluh darahnya sudah berubah akibat memikul beban tekanan darah yang terus tinggi selama bertahun-tahun. Selain lapisannya rapuh, otot dinding pembuluhnya kaku, mungkin terbentuk pula lapisan abnormal "karat" lemak bila kadar lemak dalam darah juga dibiarkan tinggi (hiperlipidemia).

Tekanan darah yang terus meninggi, merapuhnya dinding pipa pembuluh darah otak, awal dari bencana pecahnya pembuluh darah otak. Kondisi ini diperburuk oleh hadirnya penyakit kencing manis, yang selain memperburuk kadar lemak darah, diabetes ikut menambah rapuh dinding pembuluh darah juga.

Terus melonjak
Stroke perdarahan otak bisa terjadi sewaktu-waktu, dan kapan saja. Paling sering bila dalam kondisi tegang, stres, atau emosi meluap-luap. Kita sering menyaksikan serangan stroke jenis yang ini terjadi saat orang berada di mimbar, selagi rapat, dan okasi-okasi yang menegangkan lainnya. Pada kondisi tersebut, tekanan darah umumnya melonjak secara mendadak.

Tekanan darah yang melonjak dadakan akan menimbulkan beban tambahan pada dinding pembuluh darah otak. Memikul bebas deras dan kerasnya aliran darah di dalam pembuluh darah otak, tidak selalu dapat ditahan oleh pembuluh darah yang sejak awal sudah rentan dan rapuh. Ibarat ban dalam mobil yang sudah aus dan tipis, sekadar sontekan terinjak batu saja pun ban akan pecah juga.

Seperti itu yang terjadi pada stroke perdarahan otak. Dinding pembuluh darah otak, biasanya pada bagian otak tertentu, mendadak retak, koyak, dan akhirnya pecah. Darah merembas memasuki jaringan otak di sekitarnya, lalu membeku membentuk bekuan yang membola.

Semakin besar pipa pembuluh darah otak yang pecah, dan semakin besar koyakan dinding pembuluh darahnya, semakin besar ukuran bekuan darah yang terbentuk. Bekuan di bawah volume 30 cc tergolong kecil, dan lebih besar dari 60 cc tergolong besar.

Selain dari besarnya ukuran bekuan darah yang terbentuk. pragnosis pasien stroke perdarahan juga ditentukan oleh lokasi pecahnya pembuluh darah. Bila terjadi di wilayah otak yang lebih vital, tentu lebih buruk pragnosisnya. Namun, perdarahan otak yang cenderung terjadi ada empat wilayah seperti sudah disebut di atas, semuanya bersifat fatal.

Itu maka, hampir sebagian besar kasus perdarahan otak, dalam hitungan waktu paling lama dua kali 24 jam, biasanya sudah tak mungkin bisa tertolong. Hanya perdarahan di wilayah otak kecil (cerebellum) yang masih ada kemungkinan untuk tertolong, sekalipun dengan menyisakan sejumlah kecacatan.

Besar kecilnya bekuan darah yang terbentuk, ditentukan pula oleh lekas tidaknya upaya menurunkan tekanan darah dilakukan. Selama tekanan darah terus tinggi, darah yang semburat memasuki jaringan otak semakin banyak. Pertolongan pertama harus mengendurkan tekanan darah, selain memberi obat penghenti perdarahan.

Pilihan membedah kepala harus diputuskan bila bekukan darah tergolong besar dan kondisi pasien masih ada harapan untuk hidup. Untuk itu perlu dinilai status kesadarannya. Bila kesadaran pasien secara progresif terus memburuk menuju koma, keputusan pembedahan untuk mengangkat bekuan darah perlu dipertimbangkan ulang karena mungkin akan sia-sia saja.

Perdarahan otak mungkin berlangsung terus, dari menit ke jam. Ini ditunjukkan oleh kesaran pasien yang terus memburuk, dan rentetan hasil pemeriksaan CT-Scan yang dilakukan berulang akan memperlihatkan rangkaian bekuan darah semakin jam terus bertambah besar seperti bola salju.

Perdarahan otak baru terhenti dengan sendirinya bila sudah terbentuk keseimbangan antara tekanan dalam bekuan darah dan tekanan jaringan otak di sekitarnya.

Gejala utamanya lumpuh dan koma
Gejala stroke perdarahan otak dapat dikenali dengan melihat dua gejala utamanya, yakni kelumpuhan yang disertai dengan gejala penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran yang paling dalam muncul sebagai bentuk koma. Pada status ini pasien tidak memberikan respon untuk stimulasi apa pun pada tubuhnya.

Stroke bukan perdarahan atau stroke iskemik umumnya tidak disertai dengan gangguan penurunan kesadaran. Apa pun gejala strokenya, pasien umumnya tetap sadar. Serangan stroke bisa terhadi selagi bergiat, bisa juga sewaktu tidur atau beristirahat.

Sumbatan pada stroke iskemik bisa pada pembuluh darahnya sendiri, bisa juga berasal darai kiriman. Sumbatan kiriman atau emboli terjadi pada saat sedang tidak melakukan aktivitas fisik.

Sumbatan kiriman biasanya berasal dari jantung. Mereka yang mengidap gangguan jantung perlu waspada karena sama beresiko terserang stroke iskemik juga jika ada bekuan darah atau lemak yang terlepas dari jantung atau pembuluh darahnya.

Gejala kelumpuhan tidak harus selalu terjadi. Tergantung di daerah otak bagian mana kerusakan jaringan otak terjadi, gejala stroke mungkin tidak selalu kelumpuhan motorik. Bila perdarahan menimpa otak kecil, gejalanya mungkin lebih pada gangguan berbicara, gerakan bolamata, vertigo tujuh keliling, nyeri kepala hebat, dan muntah-muntah. Mungkin juga tidak sampai pingsan, dan sebagian besar umumnya masih bisa diselamatkan

Sumber : cybermed

Masalah Kesehatan: Stroke dan upaya pencegahannya

Bersama-sama Mencegah Stroke

Laporan: Dwidjo

KEBERSAMAAN mencegah stroke memiliki makna yang sangat luas, terlebih dengan akan datangnya Peringatan Hari Stroke Sedunia. Pada 24 Juni mendatang semua elemen masyarakat memperingatinya, terlebih mereka yang peduli terhadap bahaya stroke. Dampak yang ditimbulkan serta kerugian akibat penderita tidak dapat melakukan kegiatan seperti semula.
Tanggal 24 Juni 2005, ditetapkan sebagai Hari Stroke Sedunia dengan berbagai alasan. Sekarang ini jumlah penderita stroke terus bertambah, di Amerika Serikat setiap 45 detik seseorang mengalami stroke baru. Setiap tiga menit satu orang meninggal akibat stroke.
Stroke sudah menjadi masalah global, bukan lagi masalah satu negara saja. Untuk itu penanganan stroke tidak bisa hanya dengan satu disiplin ilmu, perlu melibatkan banyak disiplin ilmu. Lebih luas lagi perlu melibatkan jaringan kerja antar negara dan antar lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam penanggulangan stroke.

Stroke braind attack merupakan penyakit peredaran pembuluh darah di otak, disebabkan penyumbatan pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah otak. Stroke terjadi karena akumulasi dari beberapa faktor risiko, di antaranya darah tinggi, stres berat, kolesterol tinggi, kencing manis, jantung koroner dan kegemukan. Padahal faktor risiko stroke dapat dihindari, hanya faktor kelamin yang tidak dapat dihindari dari risiko stroke. Dari hasil survei Litbang Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki) tahun 2003, dengan jumlah sample sebanyak 193 orang, terlihat orang yang terkena stroke berusia 50 tahun ke atas atau 85,49%. Usia muda terkena stroke, jumlahnya 1,55 %. Meski masih kecil perlu diwaspadai. Menurut jenis pekerjaan orang yang terkena stroke, serta masih aktif bekerja, dari 45 orang yang disurvei, 20 orang atau 44,44% responden pegawai negeri sipil, TNI/Polri. Sebanyak 37,16% dari 148 responden pensiunan PNS, TNI/Polri.


Banyaknya orang yang terkena stroke karena minimnya pengetahuan mereka tentang masalah stroke. Apalagi cara penanggulangannya. Survei dari 193 responden, hanya 58 orang atau sekitar 30,05 % yang mengetahui tentang stroke sebelum serangan, selebihnya tidak mengetahui informasi tentang stroke.
Walaupun data yang dikemukakan belum bisa mewakili data keseluruhan di Indonesia, karena survei hanya dilakukan di Jakarta, tetapi paling tidak gambaran tentang penyakit stroke telah menghantui kehidupan masyarakat. Minimnya data informasi mengenai jumlah penderita stroke di Indonesia, serta wilayah jangkauan tempat tinggal penderita stroke yang menyebar sampai ke pelosok desa yang turut mempersulit jangkauan penanganan dan pendataannya.

Golden periode

Banyak kalangan mengharapankan, stroke mendapat perhatian pemerintah. Seperti halnya penyakit jantung dan kanker sebagai pembunuh yang mematikan. Stroke dapat masuk ke dalam kelompok penyakit gawat darurat yang perlu segera mendapat pertolongan yang cepat dan benar di rumah sakit dalam waktu kurang dari tiga jam (golden periode) sebagai waktu yang sangat berharga bagi penderita stroke.

Penanganan stroke yang komprehensif sebenarnya perlu melibatkan peran aktif masyarakat dan keluarga, sebelum mendapat pertolongan tenaga medis. Unsur masyarakat dan keluarga memegang peranan penting untuk menekan jumlah meningkatnya angka kejadian stroke.
Bukan saja tenaga medis yang harus menangani penderita stroke, semua unsur masyarakat dapat berperan penting dalam menyelamatkan penderita dari kejadian fatal. Untuk itu sosialisasi yang benar harus dilakukan, kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan.
Polisi lalu litas yang mengatur kelancaran jalan raya juga sangat berperan mengatasi permasalahan yang terjadi. Kalau seorang penderita harus dirujuk ke rumah sakit, perlu penanganan cepat. Untuk itu perlu kelancaran mencapai tempat rujukan sebelum mendapatkan pertolongan dokter.

Momentum hari stroke sedunia masyarakat harus menyadari akan bahaya stroke yang telah menelan banyak korban. Pada saat yang sama mengajak masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi penyakit yang mematikan ini, penyakit stroke juga telah membawa dampak ekonomi dan sosial yang begitu luas bagi penderitanya dan bagi negara. Lebih jauh lagi penyakit stroke dapat mengakibatkan hilangnya suatu generasi yang berpotensi dalam pembangunan bangsa.

Oleh karena bila yang terkena stroke adalah yang berusia produktif, antara usia 40 - 45 tahun, di usia tersebut seseorang menduduki posisi puncak di tempat mereka bekerja. Jika mereka terkena stroke, potensi yang dimiliki para eksekutif muda tersebut akan terhambat.
Dari segi sosial, orang yang menderita stroke kebanyakan mengalami depresi mental waktu pertama kali terkena, rasa rendah diri dan menutup diri dari lingkungan masyarakat akan menambah beban kejiawaan bagi penyandang stroke itu sendiri.

Sedangkan dampak bagi ekonomi negara, negara akan mengeluarkan banyak biaya untuk membantu pengobatan bagi orang-orang stroke yang kurang mampu dalam jangka waktu yang lama, pemerintah pun perlu menyediakan fasilitas kesehatan di rumah sakit untuk melayani para penderita stroke, seperti pengadaan unit stroke.

Masalah stroke telah menjadi keprihatinan dunia karena mengingat dampaknya yang begitu besar dan sudah menduduki pringkat kedua setelah penyakit jantung ischemic, sebagai penyakit penyebab kematian dan meningkatnya jumlah kecacatan yang serius baik di negara maju maupun negara berkembang. (djo)

sumber: pelita.com

Masalah Kesehatan: Stroke dan Bahayanya

Bahaya Stroke Perdarahan Otak
Hot Topic Mon, 22 May 2006 13:26:00 WIB

Dr. Handrawan Nadesul, Dokter umum

Stroke perdarahan otak lebih fatal akibatnya dibanding stroke bukan perdarahan otak. Lebih sering menyerang pria daripada wanita. Mungkin langsung sudah tidak dapat tertolong kendati tindakan medis segera dikerjakan. Adakah penduga kuat, siapa dan kapan stroke perdarahan menimpa seseorang? Kita bicarakan di sini.

Pak Nus, mendadak terjatuh lalu pingsan sewaktu berpidato di mimbar. Baru ketahuan kalau tungkai kanannya lumpuh setelah ia mulai siuman. Ia tak kuasa mengangkat tungkai kanannya. Kesadarannya tampak belum pulih benar, dan seperti mau tidur terus. Dokter yang memeriksa menduga Pak Nus, mengalami stroke perdarahan.

Benar, begitu gambaran hasil CT-Scan yang langsung dilakukan setiba Pak Nus, di rumah sakit. Ada bekuan darah sebesar bola bekel bersarang di bagian tengah otaknya, menekan belahan otak kiri. Hasil pengambilan cairan otak yang menyusul dilakukan, sudah penuh darah.

Setelah itu kesadaran Pak Nus, terus memburuk. Tak ada respon yang timbul sewaktu diajak bicara dan dicubit. Dia nyaris koma.

Untuk kasus seperti itu tak banyak bisa dikerjakan lagi. Pak Nus mengalami perdarahan di daerah thalamus otaknya. Ini daerah vital di bagian tengah otak. CT-Scan yang kedua kali menunjukkan bekuan darah yang sudah lebih membesar, tanda proses perdarahan masih terus berlangsung. Belum sehari, seperti dugaan dokter yang memeriksanya, Pak Nus, memang tak mungkin bisa tertolong lagi.

Kapan terjadi
Kita mengenal ada dua jenis stroke. Stroke sebab sumbatan pembuluh darah otak atau stroke iskemik, dan stroke yang terjadi sebab pecahnya pembuluh darah di dalam otak. Dua-duanya merusak sel dan bangunan di dalam otak.

Tergantung pada cabang pembuluh darah otak pemasok makanan ke bagian otak mana yang mengalami penyumbatan, kita mengenal gejala dan tanda stroke lebih sepuluh ragamnya. Stroke bukan hanya tampil dengan gejala kelumpuhan belaka seperti dikira banyak orang.

Analog dengan peta bumi demikian kondisi pemetaan fungsi otak kita. Wilayah otak provinsi tentu lebih vital dibanding wilayah otak yang setingkat kabupaten atua kecamatan. Tak lebih vital tentu wilayah desa.

Penyumbatan pembuluh darah otak yang terjadi di wilayah provinsi akan lebih nyata dan berat gejala, serta kecacatan yang disisakannya. Gangguan aliran darah yang terjadi di wilayah kecamatan atau desa, mungkin belum memperlihatkan gejala stroke apa pun (silent stroke). Stroke begini baru ketahuan kalau dilakukan CT-Scan.

Ada kelemahan dan kerentanan tersendiri untuk pembuluh-pembuluh darah otak tertentu dan percabangannya untuk beresiko tersumbat, atau disumbat baik oleh bekuan darah kiriman (dari jantung atau pembuluh darah besar di batang leher), maupun oleh penyempitan pipa pembuluh darah otak sendiri akibat menebalnya "karat" lemak (ateroklerosis). Di wilayah pembuluh darah yang seperti itu sumbatan pembuluh sering terjadi. Gejala stroke iskemik yang muncul ditentukan oleh bagian mana fungsi otak yang terganggu sesuai dengan wilayah kerusakannya.

Begitu juga kerentanan pembuluh-pembuluh darah otak bagian tertentu di dalam otak yang mudah menjadi rapuh, dan kemudian rentan pecah. Pada bagian otak yang dipasok pembuluh darah itulah yang sering mengalami perdarahan.

Kita mengenal ada empat wilayah otak yang pembuluh darahnya sering pecah, sehingga menimbulkan stroke perdarahan. Keempat wilayah itu adalah pembuluh darah di bagian otak putamen, thalamik, pontin dan otak kecil.

Karakteristik pembuluh darah yang rentan pecah itu khas. Biasanya pada bagian pembuluh darah yang menyabang (bifurcatio) yang kerap terjadi perdarahan. Mungkin karena di situ arus darah itu yang berpotensi merusak dinding bagian dalam pembuluh darahnya. Keadaan demikian lazim terjadi pada orang yang pembuluh darahnya sudah dibombardir oleh tekanan darah yang meninggi untuk waktu yang lama.

Pada pengidap darah tinggi yang menahun, pipa pembuluh darah seluruh tubuhnya sudah menjadi abnormal. Termasuk pembuluh darah di otaknya. Lapisan yang membentuk pipa pembuluh darahnya sudah berubah akibat memikul beban tekanan darah yang terus tinggi selama bertahun-tahun. Selain lapisannya rapuh, otot dinding pembuluhnya kaku, mungkin terbentuk pula lapisan abnormal "karat" lemak bila kadar lemak dalam darah juga dibiarkan tinggi (hiperlipidemia).

Tekanan darah yang terus meninggi, merapuhnya dinding pipa pembuluh darah otak, awal dari bencana pecahnya pembuluh darah otak. Kondisi ini diperburuk oleh hadirnya penyakit kencing manis, yang selain memperburuk kadar lemak darah, diabetes ikut menambah rapuh dinding pembuluh darah juga.

Terus melonjak
Stroke perdarahan otak bisa terjadi sewaktu-waktu, dan kapan saja. Paling sering bila dalam kondisi tegang, stres, atau emosi meluap-luap. Kita sering menyaksikan serangan stroke jenis yang ini terjadi saat orang berada di mimbar, selagi rapat, dan okasi-okasi yang menegangkan lainnya. Pada kondisi tersebut, tekanan darah umumnya melonjak secara mendadak.

Tekanan darah yang melonjak dadakan akan menimbulkan beban tambahan pada dinding pembuluh darah otak. Memikul bebas deras dan kerasnya aliran darah di dalam pembuluh darah otak, tidak selalu dapat ditahan oleh pembuluh darah yang sejak awal sudah rentan dan rapuh. Ibarat ban dalam mobil yang sudah aus dan tipis, sekadar sontekan terinjak batu saja pun ban akan pecah juga.

Seperti itu yang terjadi pada stroke perdarahan otak. Dinding pembuluh darah otak, biasanya pada bagian otak tertentu, mendadak retak, koyak, dan akhirnya pecah. Darah merembas memasuki jaringan otak di sekitarnya, lalu membeku membentuk bekuan yang membola.

Semakin besar pipa pembuluh darah otak yang pecah, dan semakin besar koyakan dinding pembuluh darahnya, semakin besar ukuran bekuan darah yang terbentuk. Bekuan di bawah volume 30 cc tergolong kecil, dan lebih besar dari 60 cc tergolong besar.

Selain dari besarnya ukuran bekuan darah yang terbentuk. pragnosis pasien stroke perdarahan juga ditentukan oleh lokasi pecahnya pembuluh darah. Bila terjadi di wilayah otak yang lebih vital, tentu lebih buruk pragnosisnya. Namun, perdarahan otak yang cenderung terjadi ada empat wilayah seperti sudah disebut di atas, semuanya bersifat fatal.

Itu maka, hampir sebagian besar kasus perdarahan otak, dalam hitungan waktu paling lama dua kali 24 jam, biasanya sudah tak mungkin bisa tertolong. Hanya perdarahan di wilayah otak kecil (cerebellum) yang masih ada kemungkinan untuk tertolong, sekalipun dengan menyisakan sejumlah kecacatan.

Besar kecilnya bekuan darah yang terbentuk, ditentukan pula oleh lekas tidaknya upaya menurunkan tekanan darah dilakukan. Selama tekanan darah terus tinggi, darah yang semburat memasuki jaringan otak semakin banyak. Pertolongan pertama harus mengendurkan tekanan darah, selain memberi obat penghenti perdarahan.

Pilihan membedah kepala harus diputuskan bila bekukan darah tergolong besar dan kondisi pasien masih ada harapan untuk hidup. Untuk itu perlu dinilai status kesadarannya. Bila kesadaran pasien secara progresif terus memburuk menuju koma, keputusan pembedahan untuk mengangkat bekuan darah perlu dipertimbangkan ulang karena mungkin akan sia-sia saja.

Perdarahan otak mungkin berlangsung terus, dari menit ke jam. Ini ditunjukkan oleh kesaran pasien yang terus memburuk, dan rentetan hasil pemeriksaan CT-Scan yang dilakukan berulang akan memperlihatkan rangkaian bekuan darah semakin jam terus bertambah besar seperti bola salju.

Perdarahan otak baru terhenti dengan sendirinya bila sudah terbentuk keseimbangan antara tekanan dalam bekuan darah dan tekanan jaringan otak di sekitarnya.

Gejala utamanya lumpuh dan koma
Gejala stroke perdarahan otak dapat dikenali dengan melihat dua gejala utamanya, yakni kelumpuhan yang disertai dengan gejala penurunan kesadaran. Penurunan kesadaran yang paling dalam muncul sebagai bentuk koma. Pada status ini pasien tidak memberikan respon untuk stimulasi apa pun pada tubuhnya.

Stroke bukan perdarahan atau stroke iskemik umumnya tidak disertai dengan gangguan penurunan kesadaran. Apa pun gejala strokenya, pasien umumnya tetap sadar. Serangan stroke bisa terhadi selagi bergiat, bisa juga sewaktu tidur atau beristirahat.

Sumbatan pada stroke iskemik bisa pada pembuluh darahnya sendiri, bisa juga berasal darai kiriman. Sumbatan kiriman atau emboli terjadi pada saat sedang tidak melakukan aktivitas fisik.

Sumbatan kiriman biasanya berasal dari jantung. Mereka yang mengidap gangguan jantung perlu waspada karena sama beresiko terserang stroke iskemik juga jika ada bekuan darah atau lemak yang terlepas dari jantung atau pembuluh darahnya.

Gejala kelumpuhan tidak harus selalu terjadi. Tergantung di daerah otak bagian mana kerusakan jaringan otak terjadi, gejala stroke mungkin tidak selalu kelumpuhan motorik. Bila perdarahan menimpa otak kecil, gejalanya mungkin lebih pada gangguan berbicara, gerakan bolamata, vertigo tujuh keliling, nyeri kepala hebat, dan muntah-muntah. Mungkin juga tidak sampai pingsan, dan sebagian besar umumnya masih bisa diselamatkan.

Sumber: Senio

Masalah Kesehatan: Hipertensi dan masalahnya

Langkah Tepat Atasi Hipertensi

Hipertensi biasanya tidak menampakkan gejala dan menyerang orang tanpa disadari. Makanya, hipertensi sering disebut ''pembunuh tersembunyi'' (The Silent Killer). Biasanya, seseorang mengetahui dirinya hipertensi setelah memeriksakan tekanan darahnya, dan penderita hipertensi datang ke doker umumnya sudah parah karena tidak tahu dirinya mengidap hipertensi.

--------------------------

BIASANYA, seseorang akan memperhatikan risiko bahaya hipertensi ketika ada keluarga dekatnya -- ayah, ibu, kakak, atau adiknya -- yang meninggal dunia terkena serangan jantung ataupun lumpuh karena stroke sebagai komplikasi hipertensi. Jadi, sangatlah penting memeriksakan tekanan darah secara berkala untuk mendeteksi secara dini terjadinya peningkatan tekanan darah.

Lantas, apa sesungguhnya hipertensi itu? Di masyarakat, hipertensi sudah umum diketahui sebagai tekanan darah tinggi yang sering diidentikkan dengan orang yang sering marah-marah dan pusing. Lebih jauh, tekanan darah adalah tekanan pada pembuluh nadi dari peredaran darah sistemik di dalam tubuh. Tekanan darah dibedakan menjadi dua -- tekanan sistolik (tekanan darah waktu jantung menguncup) dan tekanan diastolik (tekanan darah pada saat jantung mengendor kembali). Seseorang dikatakan hipertensi jika tekanan darahnya di atas normal yaitu tekanan sistolik-nya 140 mmHg atau lebih dan tekanan diastolik-nya di atas 90 mmHg atau lebih.

Jika hipertensi terjadi di bawah umur 30 tahun dan kemungkinan penyebabnya karena minum pil KB, gangguan fungsi ginjal dan gangguan keseimbangan fungsi hormon sering disebut hipertensi sekunder, sedangkan hipertensi yang terjadi seiring peningkatan usia, stres dan faktor keturunan disebut hipertensi primer. Namun, penyebab pasti terjadinya hipertensi primer belum diketahui, sedangkan faktor yang sering berperan yaitu faktor keturunan, karena seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk menderita hipertensi jika orangtuanya penderita hipertensi. Faktor yang berperan juga adalah umur, umur yang bertambah akan menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan darah dan umumnya tekanan darah pria lebih tinggi dibandingkan wanita.

Penelitian di Amerika Serikat juga menunjukkan tekanan darah pada orang kulit hitam hampir dua kali lebih banyak dibanding orang kulit putih. Selain pengaruh di atas, ada juga pengaruh kebiasaan hidup dengan mengkonsumsi garam yang tinggi, makan berlebihan sehingga menyebabkan kegemukan, stres dan ketegangan jiwa, merokok, minum alkohol dan minum obat-obatan yang mengandung ephedrin, prednison dan epinefrin. Semua faktor ini memperbesar kemungkinan terjadinya hipertensi.

Pencegahan dan Pengobatan

Dengan adanya faktor-faktor yang dapat dihindarkan tersebut, tentunya hipertensi dapat dicegah dan bagi penderita hipertensi agar terhindar dari komplikasi yang fatal. Usaha-usaha pencegahan dan pengobatan yang dapat dilakukan yaitu sbb.:

* Mengurangi konsumsi garam dalam diet sehari-hari, maksimal 2 gram garam dapur. Batasi pula makanan yang mengandung garam natrium seperti corned beef, ikan kalengan, lauk atau sayuran instan, saus botolan, mi instan, dan kue kering. Pembatasan konsumsi garam mengakibatkan pengurangan natrium yang menyebabkan peningkatan asupan kalium. Ini akan menurunkan natrium intrasel yang akan mengurangi efek hipertensi.

* Menghindari kegemukan (obesitas). Batasan kegemukan adalah jika berat badan lebih 10% dari berat badan normal. Pada penderita muda dengan hipertensi terdapat kecenderungan menjadi gemuk dan sebaliknya pada penderita muda dengan obesitas akan cenderung hipertensi. Pada orang gemuk akan terjadi peningkatan tonus simpatis yang diduga dapat mengakibatkan tekanan darah meningkat.

* Membatasi konsumsi lemak. Ini dilakukan agar kadar kolesterol darah tidak terlalu tinggi karena kolesterol darah yang tinggi dapat menyebabkan endapan kolesterol. Hal ini akan menyumbat pembuluh darah dan mengganggu peredaran darah sehingga memperberat kerja jantung dan memperparah hipertensi. Kadar kolesterol normal dalam darah yaitu 200-250 mg per 100cc serum darah.

* Berolahraga teratur dapat menyerap dan menghilangkan endapan kolesterol pada pembuluh nadi. Olah raga yang dimaksud adalah gerak jalan, berenang, naik sepeda dan tidak dianjurkan melakukan olah raga yang menegangkan seperti tinju, gulat atau angkat besi karena latihan yang berat dapat menimbulkan hipertensi.

* Makan buah-buahan dan sayuran segar amat bermanfaat karena banyak mengandung vitamin dan mineral kalium yang dapat membantu menurunkan tekanan darah.

* Tidak merokok dan tidak minum alkohol karena diketahui rokok dan alkohol dapat meningkatkan tekanan darah. Menghindari rokok dan alkohol berarti menghindari kemungkinan hipertensi.

* Latihan relaksasi atau meditasi berguna untuk mengurangi stres atau ketegangan jiwa. Kendorkan otot tubuh sambil membayangkan sesuatu yang damai dan menyenangkan, mendengarkan musik dan bernyanyi sehingga mengurangi respons susunan saraf pusat melalui penurunan aktivitas simpatetik sehingga tekanan darah dapat diturunkan.

* Merangkai hidup yang positif. Hal ini dimaksudkan agar seseorang mengurangi tekanan atau beban stres dengan cara mengeluarkan isi hati dan memecahkan masalah yang mengganjal dalam hati. Komunikasi dengan orang dapat membuat hati menjadi lega dan dari sini dapat timbul ide untuk menyelesaikan masalah.

* Memberi kesempatan tubuh untuk istirahat dan bersantai dari pekerjaan sehari-hari yang menjadi beban jika tidak terselesaikan. Jika hal ini terjadi pada Anda, lebih baik melakukan kegiatan santai dulu. Setelah pikiran segar kembali akan ditemukan cara untuk mengatasi kesulitan itu.

* Membagi tugas yang kita tidak bisa selesaikan dengan sendiri dapat mengurangi beban kita. Orang yang berpendapat dirinya mampu melakukan segala hal dengan sempurna biasa disebut perfeksionis, orang ini akan selalu stres dan menanggung beban kerja dan pikiran berlebihan. Kita harus sadar bahwa kemampuan setiap orang terbatas untuk mampu mengerjakan segala-galanya. Dengan memberi kesempatan pada orang lain untuk membantu menyelesaikan tugas kita, beban kita dapat berkurang dan kita juga banyak teman, yang tentunya akan menimbulkan rasa bahagia.

* Menghilangkan perasaan iri atau dengki juga mengurangi ketegangan jiwa sehingga hati kita menjadi tentram. Menolong orang lain dengan tulus dan memupuk sikap perdamaian juga akan memberikan kepuasan yang tersendiri pada kita. Dengan memupuk sikap-sikap seperti itu, tentu kita akan mengurangi ketegangan, beban, stres yang timbul sehingga hipertensi dapat dihindari.

Orang yang sudah pernah memeriksakan dirinya dan diketahui menderita hipertensi, dapat diberikan obat-obat golongan diuretika, alfa bloker, beta bloker, vasodilator, antagonis kalsium dan penghambat ACE. Tentu saja, penggunaan obat-obat ini atas petunjuk dokter.

* dr. putu purlimaningsih

sumber: balipos.com

Masalah Kesehatan: Hipertensi dan Perempuan

Perempuan Lebih Rentan Hipertensi
Selasa, 29 Mei 2007 | 09:00 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kaum perempuan ternyata lebih rentan hipertensi dibanding kaum pria. Sebanyak 22,7 persen perempuan menderita hipertensi, sementara jumlah penderita dari kaum pria berselisih tipis, 22 persen.

"Penyebab utama kematian pada penderita (hipertensi) adalah serangan jantung," kata Direktur Pemberantasan Penyakit Tidak Menular Departemen Kesehatan Achmad Hardiman saat dihubungi Tempo, Selasa pagi.

Persentase itu, kata dia, adalah hasil pemantauan pada pasien hipertensi oleh Rumah Sakit Jantung Harapan Kita di tiga kecamatan Jakarta Selatan. Selain itu, bagi penderita hipertensi, Hardiman memperingatkan faktor resiko lain. "Merokok," ujarnya.

Untuk pertama kalinya, Indonesia memperingati Hari Hipertensi nasional yang dipusatkan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, pagi ini. Acara itu akan dihadiri Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari.

Hari Hipertensi Nasional digagas oleh Yayasan Jantung Indonesia, Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dan Indonesia Society of Hypertension. Pencanangan Hari Hipertensi dilakukan agar masyarakat sadar bahaya hipertensi. Sebab penyakit ini tidak bisa dideteksi, sehingga sering kali disebut dengan the silent killer atau pembunuh tersembunyi.

Hardiman sendiri menghadiri peringatan Hari Tanpa Tembakau yang berpusat di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan pada waktu yang sama. Hari Tanpa Tembakau sendiri jatuh pada 31 Mei. IBNU RUSYDI/ REH A SUSANTI


Sumber: www.tempointeraktif.com

Masalah Kesehatan: Hipertensi

MENGENDALIKAN HIPERTENSI UNTUK MENCEGAH KOMPLIKASI

:: HIPERTENSI

Hipertensi adalah penyakit yang terjadi akibat peningkatan tekanan darah. Hipertensi ada 2 jenis yaitu hipertensi primer atau esensial yang penyebabnya tidak diketahui dan hipertensi sekunder yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, gangguan anak ginjal, dll.

:: KLASIFIKASI HIPERTENSI

Klasifikasi hipertensi menurut JNC-7 2003 adalah sebagai berikut :

* TEKANAN DARAH NORMAL :
Tekanan Sistolik < 120 mmHg dan Tekanan Diastolik < 80 mmHg

* PRE-HIPERTENSI :
Tekanan Sistolik 120-139 mmHg dan/atau Tekanan Diastolik 80-90 mmHg

* HIPERTENSI
Stadium I : Tekanan Sistolik 140 – 159 mmHg dan/atau Tekanan
Diastolik 90 – 99 mmH
Stadium II : Tekanan Sistolik > 160 mmHg dan/atau Tekanan
Diastolik > 100 mmHg

Jadi secara umum penderita dikatakan Hipertensi bila Tekanan darah > 140/90 mmHg. Untuk diagnosis Hipertensi, tekanan darah ditentukan berdasarkan rata-rata dari 2 kali pemeriksaan atau lebih pada waktu yang berbeda dan pengukuran dilakukan pada posisi duduk.

Atas dukungan pemasok, PRODIA memberikan keringanan biaya 15 %
pada tanggal 1 – 31 Agustus 2004 untuk pemeriksaan Panel Evaluasi Awal Hipertensi dan Panel Hidup Sehat dengan Hipertensi (Dasar & Lanjut)

:: BAHAYA HIPERTENSI

Tekanan darah yang terus-menerus tinggi dapat menimbulkan komplikasi pada organ tubuh penderita.
Organ yang paling sering menjadi target kerusakan akibat Hipertensi antara lain :

* Otak : menyebabkan stroke
* Mata : menyebabkan retinopati hipertensi dan dapat menimbulkan kebutaan
* Jantung : menyebabkan Penyakit Jantung Koroner (termasuk Infark jantung), Gagal Jantung
* Ginjal : menyebabkan Penyakit Ginjal Kronik, Gagal Ginjal Terminal

Untuk mengetahui terjadinya komplikasi tersebut diperlukan pemeriksaan laboratorium disamping pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan fisik oleh dokter.

:: PERAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Tujuan pemeriksaan laboratorium pada pasien hipertensi :

* Untuk mencari kemungkinan penyebab Hipertensi sekunder
* Untuk menilai apakah ada penyulit dan kerusakan organ target
* Untuk memperkirakan prognosis
* Untuk menentukan adanya faktor-faktor lain yang mempertinggi risiko Penyakit Jantung Koroner dan Stroke

Pemeriksaan laboratorium untuk Hipertensi ada 2 macam yaitu :

1. Panel Evaluasi Awal Hipertensi :
Pemeriksaan ini dilakukan segera setelah didiagnosis Hipertensi, dan sebelum memulai pengobatan

2. Panel Hidup Sehat dengan Hipertensi
Panel Dasar : untuk memantau keberhasilan terapi
Panel Lanjut : untuk deteksi dini penyulit

:: PEMERIKSAAN LABORATORIUM UNTUK

KOMPLIKASI PADA OTAK
Tekanan darah yang terus-menerus tinggi menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah yang disebut disfungsi endotel. Hal ini memicu pembentukan plak aterosklerosis dan trombosis (pembekuan darah yang berlebihan). Akibatnya, pembuluh darah tersumbat dan jika penyumbatan terjadi pada pembuluh darah otak dapat menyebabkan stroke.

Pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi faktor yang meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis adalah Cholesterol total, Cholesterol HDL, Cholesterol LDL, Trigliserida, Apo B, Status Antioksidan Total, hs-CRP, Glukosa darah dan Mikroalbumin.

KOMPLIKASI PADA MATA
Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan deteksi komplikasi pada mata adalah pemeriksaan Funduscopy.

KOMPLIKASI PADA JANTUNG

* Penyakit Jantung Koroner (PJK)
Selain pada otak, penyumbatan pembuluh darah dapat terjadi pada pembuluh koroner dan dapat menyebabkan Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan kerusakan otot jantung (Infark Jantung).

Kerusakan otot jantung dapat menyebabkan pengeluaran protein otot jantung yang disebut Troponin I ke dalam aliran darah. Dengan demikian, pemeriksaan Troponin I dapat digunakan untuk deteksi dini terjadinya Infark Jantung.

* Gagal Jantung
Pada penderita Hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat, otot jantung akan menyesuaikan sehingga terjadi pembesaran jantung dan semakin lama otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, yang disebut dekompensasi.
Akibatnya, jantung tidak mampu lagi memompa dan menampung darah dari paru sehingga banyak cairan tertahan di paru maupun jaringan tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini disebut Gagal Jantung.
Pada kondisi seperti itu, otot bilik jantung akan melepaskan senyawa peptida yang disebut BNP (B type Natriuretic Peptide) sebagai respon dekompensasi jantung. Dengan demikian, pemeriksaan BNP dapat digunakan untuk deteksi dini terjadinya Gagal Jantung.

:: PEMERIKSAAN LABORATORIUM UNTUK

KOMPLIKASI PADA GINJAL
Hipertensi dapat menyebabkan pembuluh darah pada ginjal mengkerut (vasokonstriksi) sehingga aliran nutrisi ke ginjal terganggu dan mengakibatkan kerusakan sel-sel ginjal yang pada akhirnya terjadi gangguan fungsi ginjal.

Apabila tidak segera diatasi dapat menyebabkan Gagal Ginjal Kronik atau bahkan Gagal Ginjal Terminal yang hanya dapat ditangani dengan cuci darah (hemodialisis) atau cangkok ginjal.

Pemeriksaan laboratorium yang penting untuk deteksi gangguan fungsi ginjal adalah :

* Urine rutin, untuk deteksi gangguan pada ginjal dan saluran kencing
* Mikroalbumin, untuk deteksi dini kebocoran pada glomerulus ginjal
* Urea-N, Kreatinin dan Cystatin-C, merupakan penanda gangguan fungsi ginjal

HIDUP SEHAT DENGAN HIPERTENSI
Bila Anda mengidap Hipertensi, jangan panik tetapi jangan pula mengabaikannya. Segera berkonsultasilah dengan dokter dan ikuti petunjuk dokter.

Keberhasilan penanganan Hipertensi tidak hanya tergantung pada obat yang diberikan oleh dokter, tetapi diperlukan kerjasama dan upaya yang gigih dari penderita yaitu :

* Menurunkan berat badan
* Mengatur diet atau pola makan seperti rendah garam, rendah kolesterol dan lemak jenuh, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran, tidak mengkonsumsi alkohol
* Berhenti merokok
* Meningkatkan aktivitas fisik dengan olah raga teratur
* Mengkonsumsi obat sesuai dengan petunjuk dokter
* Melakukan pemeriksaan laboratorium dengan Panel Evaluasi Awal Hipertensi atau Panel Hidup Sehat dengan Hipertensi


Sumber: www.prodia.co.id